Pengalaman Investasi Di Saham ACES
Peter Lynch berkata, "Berinvestasilah di saham perusahaan yang bisnisnya Anda pahami.".
Itulah salah satu nasihat investasi yang selalu saya pegang sejak pertama kali memutuskan untuk terjun di pasar modal. Dan salah satu sektor bisnis yang saya pahami adalah retail.
Ketika saya pertama kali membuat RDN pada pertengahan 2020 (Investor Generasi COVID-19 😂), saham PT ACE Hardware Indonesia Tbk. (ACES) sudah menarik minat saya karena kebetulan keluarga saya adalah salah satu pelanggan di perusahaan retail tersebut. Alasannya adalah barang-barang rumah tangga yang dijual di sana memiliki kualitas yang bagus. Bisa dibilang premium malah.
Sayangnya, saat itu valuasi saham ACES masih mahal (PER > 35, PBV > 5). Walaupun valuasi yang mahal tersebut didukung oleh kinerja perusahaan yang masih bagus (Sales, Net Profit, & CFO > IDR 500 miliar) di tengah situasi Pandemi, tapi bagi saya yang seorang value investor, saya memutuskan untuk menunggu sampai harga saham ACES turun di bawah harga wajar (Saya menggunakan Book Value perusahaan, yang saat itu 500 sebagai patokan harga wajar dengan MOS 30%. Mohon dikoreksi jika salah.) untuk memaksimalkan return yang akan saya peroleh di masa depan.
Selagi menunggu, saya memutuskan untuk mengalokasikan sebagian dana ke saham emiten lain yang bisnisnya juga saya pahami, yang valuasinya masih murah sambil tetap mengamati kinerja ACES secara kuartalan dan tahunan.
Setelah hampir 2 tahun menunggu, pada Oktober 2022, muncul berita bahwa investor institusional asing melakukan aksi jual saham ACES secara besar-besaran sehingga membuat harganya anjlok dari 1800-an/lembar menjadi 600-an/lembar. Hal ini diikuti juga oleh para investor retail dengan melakukan panic selling yang membuat harga saham ACES semakin turun di harga 420-an/lembar dimana saya baru berani masuk, meskipun tidak all-in disebabkan satu kelemahan khas yang dimiliki oleh perusahaan retail, yaitu risiko inventory yang tidak optimal, yang membuat saya tidak berani all-in.
Selain yang saya sebutkan di atas, ada beberapa hal yang membuat saya berani masuk ke saham ACES:
1. ACES tidak memiliki utang bank.
2. ACES termasuk saham Net Cash, dimana Cash & Equivalent Cash milik perusahaan mampu untuk meng-cover Total Liabilities dan masih ada sisa uang.
3. ACES mampu menghasilkan Profits Margin yang lumayan meskipun ditengah ketidak stabilan ekonomi akibat Pandemi. Tidak seperti perusahaan publik lain di sektor yang sama.
4. ACES memenuhi 15 poin syarat perusahaan yang baik (Scuttlebutt) menurut Phillips Arthur Fisher, salah satunya adalah memiliki manajemen yang berintegritas.
5. Manajemen ACES bersikap hati-hati dalam berekspansi dengan menyewa gedung untuk gerai mereka daripada harus membangun gedung tersebut dari nol, sehingga lebih menghemat CAPEX & OPEX.
6. Sales ACES > 80% dilakukan secara tunai.
Demikian sharing pengalaman saya ketika berinvestasi di saham ACES. Kalau ada kekurangan mohon kritik dan sarannya. Terima kasih.

Komentar
Posting Komentar