Postingan

Analisis Saham INDS

 INDS (PT Indospring Tbk.) adalah produsen leaf springs, coil springs, dan stabiliser bar untuk kendaraan roda empat.  INDS adalah bagian dari Indoprima Group.  Bisa dikatakan bahwa INDS termasuk saham cyclical karena volume penjualan produk sparepart-nya tergantung dari volume penjualan kendaraan roda empat.  Dari segi kualitatif, saya melihat manajemen atas INDS memiliki hubungan yang baik dengan manajemen di bawahnya, bahkan sampai ke karyawan pabrik. Hal itu bisa dilihat dari kegiatan musyawarah yang sering dilakukan oleh pihak manajemen untuk mengumpulkan seluruh pemangku kepentingan di perusahaan untuk mendiskusikan berbagai hal penting yang terjadi di luar (trend) yang sekiranya memiliki dampak baik maupun buruk bagi perusahaan dan bagaimana mencari solusinya.  Dengan pengalaman lebih dari 45 tahun, INDS mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan sudah diekspor ke lebih dari 100 negara. Namun sayangnya, bahan baku yang digunakan dalam proses produksi ...

Analisis Saham ⚡️

Gambar
 Saham ini sudah menarik minat saya sejak awal 2023. Tapi, karena kesibukan saya bekerja sebagai karyawan dan mengelola portofolio saham, saya baru sempat untuk melakukan analisis. Berdasarkan LK Q3 2023, saham perusahaan ini: 1. Termasuk saham Net Cash , karena Cash & Equivalent Cash nya bisa meng-cover Total Liabilities dan masih ada sisa. Cash & Equivalent Cash = IDR 999.600.000.000 Short-term Liabilities = IDR 425.300.000.000 Long-term Liabilities = IDR 51.000.000.000 Net Cash = IDR 523.300.000.000 Outstanding Shares = 205.600.000 Fair Price = NC ÷ OS = 2545 per share ( Margin Of Safety 30% = ± 1780 per share) 2. Tidak memiliki utang bank. 3. Di harga pada sesi perdagangan hari ini (Rabu, 15 November 2023) 8400 per share. PER 6.50X Tapi antara 2019 - 2022, pertumbuhan Net Profits konsisten turun rata-rata 30% YoY . PBV 0.35 Cukup murah untuk sebuah saham perusahaan yang listing sejak awal 1990 an. Dengan Capital = IDR 223.300.000.000, mampu menghasilk...

Analisis Utang Obligasi PJAA

 Pada tanggal 10 Februari 2021, PJAA telah mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas penerbitan Obligasi Berkelanjutan II Jaya Ancol Tahap II Tahun 2021 yaitu: a. Seri A senilai IDR 516 miliar dengan suku bunga 7,25% per tahun, akan jatuh tempo tanggal 20 Februari 2022. b. Seri B senilai IDR 149,6 miliar dengan suku bunga 8,90% per tahun, akan jatuh tempo tanggal 10 Februari 2024. c. Seri C senilai IDR 65,4 miliar dengan suku bunga 9,60% per tahun, akan jatuh tempo tanggal 10 Februari 2026. Obligasi Seri A sudah jatuh tempo dan dilunasi. Sekarang fokus manajemen dan investor PJAA berpindah ke Obligasi Seri B senilai IDR 149,6 miliar dengan bunga 8,90% (IDR 13,4 miliar) per tahun. Apakah PJAA mampu menghasilkan Net CFO yang dapat meng-cover kewajiban tersebut? Semoga saja.

Analisis Utang Bank PJAA

 Berdasarkan LK Q3 2023, Tanggal 20 Desember 2021, PJAA memperoleh fasilitas Kredit Modal Kerja sebesar IDR 389 miliar dengan bunga 6,25% per tahun dari Bank DKI. Waktu jatuh tempo 24 bulan (2 tahun) sampai 20 September 2023. Dan fasilitas kredit ini sudah diambil oleh pihak PJAA. Karena kinerja PJAA baru saja recover dari Pandemi COVID-19, maka pihak manajemen meminta perpanjangan waktu jatuh tempo 2 tahun lagi sampai 20 September 2025 dengan bunga 6,75% (IDR 27 miliar) per tahun (Apakah ada kaitannya dengan kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan tingkat suku bunga pinjaman menjadi 6,75% per tahun pada Oktober 2023? Saya pribadi belum tahu.). Pada tanggal yang sama (20 Desember 2021), PJAA juga memperoleh fasilitas kredit yang sama sebesar IDR 516 miliar dengan, 1. Jangka waktu 24 bulan (2 tahun) selama grace period . JIBOR 3 Months (6,9%) + Margin 1,75%. 2. Jangka waktu 84 bulan (7 tahun, sampai 14 Desember 2030) setelah grace period . JIBOR 3 Months (6,9%) + Margin 3%. NOTE : K...

Pengalaman Investasi Di Saham EAST

Ketertarikan saya kepada saham EAST diawali dengan ketidaksengajaan saat masih dalam situasi Pandemi COVID-19 pada 2021 lalu.  Waktu itu saya sedang membaca buku Perang Melawan Influenza karya Ravando Lie yang baru saja saya beli dari Gramedia.  Di buku tersebut dijelaskan bahwa Pandemi Flu Spanyol terjadi selama 2 tahun (Februari 1918 – April 1920). Dan setelah itu situasi kembali normal.  "Berarti kalau begitu Pandemi COVID-19 ada kemungkinan hanya berlangsung 2 atau 3 tahun. Setelah itu situasi perekonomian akan kembali pulih, termasuk bisnis emiten di BEI.", pikir saya.  Lalu saya mulai mencari dan membuat story kira-kira bisnis apa yang akan pulih lebih awal setelah Pandemi ini berakhir. Pilihan saya jatuh ke bisnis perhotelan.  Kemudian saya mulai belajar tentang bagaimana bisnis perhotelan dijalankan dari berbagai sumber. Dan saya mulai paham bahwa bisnis tersebut bertumpu kepada sektor pariwisata. Selama sektor pariwisata hidup, maka bisnis perhotelan a...

Pengalaman Investasi Di Saham ACES

Gambar
  Peter Lynch berkata, "Berinvestasilah di saham perusahaan yang bisnisnya Anda pahami.".   Itulah salah satu nasihat investasi yang selalu saya pegang sejak pertama kali memutuskan untuk terjun di pasar modal. Dan salah satu sektor bisnis yang saya pahami adalah retail.  Ketika saya pertama kali membuat RDN pada pertengahan 2020 (Investor Generasi COVID-19 😂), saham PT ACE Hardware Indonesia Tbk. (ACES) sudah menarik minat saya karena kebetulan keluarga saya adalah salah satu pelanggan di perusahaan retail tersebut. Alasannya adalah barang-barang rumah tangga yang dijual di sana memiliki kualitas yang bagus. Bisa dibilang premium malah.  Sayangnya, saat itu valuasi saham ACES masih mahal (PER > 35, PBV > 5). Walaupun valuasi yang mahal tersebut didukung oleh kinerja perusahaan yang masih bagus ( Sales, Net Profit, & CFO > IDR 500 miliar) di tengah situasi Pandemi, tapi bagi saya yang seorang value investor , saya memutuskan untuk menunggu sampai harga...

Trend-sanity

 Sebagaimana trend dalam dunia fashion , di pasar modal juga ada trend yang bersifat sementara yang mampu menciptakan distorsi antara harga saham dan nilai real perusahaan dibalik lembaran saham tersebut dan memengaruhi psikologi pelaku pasar.  Ketika terjadi trend saham bank digital pada pertengahan 2021 sampai pertengahan 2022, saham-saham bank digital harganya naik gila-gilaan, padahal kinerja perusahaannya biasa-biasa saja, bahkan ada yang masih membukukan kerugian di laporan keuangannya.  Sedangkan saham-saham emiten diluar bank digital yang memiliki kinerja bagus, harganya cenderung stagnan bahkan turun.  Inilah yang kami, para investor saham menyebutnya sebagai insanity atau kegilaan di pasar modal. Dan kami tidak perlu mengikuti arus kegilaan tersebut.  Investor harus ekstra hati-hati dalam membeli saham emiten yang menjadi trend sesaat karena harganya yang terlalu mahal akibat interpretasi yang terlalu berlebihan terhadap prospek bisnis emiten ter...